LEARN / BLOG

Studi Nafas & Halodoc: Udara Jabodetabek Tingkatkan Kasus Penyakit Pernapasan Hingga 34%


WRITTEN BY

nafas Indonesia

PUBLISHED

23/10/2023

LANGUAGE

EN / ID

English / Indonesia


💡 Rangkuman:

1. Jumlah kasus penyakit pernapasan meningkat hingga 34% pada setiap kenaikan PM2.5 sebesar 10 μg/m³
2. Persentase kasus penyakit pernapasan di setiap kecamatan meningkat hingga 41% saat kualitas udara memburuk
3. Konsentrasi PM2.5 ≥ 55 μg/m³ (Kategori Tidak Sehat) berisiko menimbulkan masalah pernapasan dalam rentang waktu 12 jam
4. Kasus penyakit Bronkitis dan Asma meningkat 5 kali lipat dalam kurun waktu 48 jam
5. Kelompok sensitif memiliki risiko tertinggi masalah pernapasan dengan peningkatan kasus hingga 48% 


Laporan ini merupakan hasil studi gabungan yang dilakukan oleh Nafas, platform digital pemantau kualitas udara, berkolaborasi dengan Halodoc, ekosistem layanan kesehatan digital. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode statistik deskriptif analisis dalam mengkaji hubungan keterkaitan antara polusi PM2.5 dengan rata-rata kasus/keluhan penyakit pernapasan pada aplikasi Halodoc selama periode Juni-Agustus 2023 untuk wilayah Jabodetabek.

Di wilayah Jabodetabek, polusi udara, khususnya dari tahun 2021 hingga 2023, menunjukkan pola yang konsisten sekitar bulan Juni-Agustus. Rata-rata tingkat PM2.5 berada dalam kategori "Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif" atau di atas batas paparan tahunan WHO.



PM2.5 masih menjadi partikel polusi berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil sehingga bisa dengan mudah dihirup dan mengancam kesehatan semua orang, terutama kelompok sensitif seperti anak-anak dan lansia.



Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana polusi ini mempengaruhi kesehatan pernapasan penduduk Jabodetabek.

Seberapa buruk kualitas udara Jabodetabek?

Berdasarkan pantauan sensor nafas, kualitas udara di Jabodetabek menunjukkan dominasi "Tidak Sehat untuk Kelompok Sensitif". Lonjakan polusi tertinggi terjadi di Tangerang Selatan dengan tingkat konsentrasi PM2.5 yang mencapai hingga 63 µg/m3 di bulan Agustus, atau hampir 13 kali lebih tinggi dari batas paparan tahunan WHO.



Buruknya kualitas udara Jabodetabek selama bulan Juni-Agustus 2023 berdampak pada kesehatan warga yang dirasakan dalam jangka pendek, atau durasi singkat sejak meningkatnya tingkat polusi udara. Berikut adalah beberapa temuan utama dari studi gabungan Nafas dan Halodoc.

Hasil temuan studi

Jumlah kasus penyakit pernapasan meningkat hingga 34% pada setiap kenaikan PM2.5 sebesar 10 μg/m³



Terdapat kenaikan keluhan penyakit pernapasan sebesar 34% setiap kali ada peningkatan PM2.5 sebesar 10 µg/m3 dari baseline 31 µg/m3. Peningkatan kasus tertinggi terjadi di bulan Juni sebesar 34%, sementara di bulan Juli dan Agustus sebesar 32%.

Polusi meningkat, persentase kasus penyakit pernapasan di setiap kecamatan meningkat hingga 41%



Berdasarkan data yang dihimpun dari 73 kecamatan di Jabodetabek, terdapat 20 kecamatan dengan persentase kenaikan keluhan masalah pernapasan tertinggi berdasarkan kenaikan PM2.5 sebesar 10 µg/m3. Peningkatan kasus penyakit pernapasan bulanan tertinggi di Kecamatan Kebayoran Baru 38.2% (Juni) dan 35.4% (Juli), serta Serpong 34.7% (Agustus).

Kualitas udara di kategori “Tidak Sehat” berisiko menimbulkan masalah pernapasan dalam rentang waktu 12 jam

Semakin sering kejadian polusi tinggi (PM2.5 di atas 55 μg/m³), maka semakin tinggi pula frekuensi peningkatan keluhan penyakit pernapasan dalam kurun waktu 12 jam.



Ini membuktikan bahwa polusi udara tidak hanya menjadi silent killer yang memiliki dampak kesehatan dalam jangka panjang, namun juga dampaknya bisa dirasakan warga kurang dari sehari sejak terpapar polusi tinggi.

Kasus penyakit Bronkitis dan Asma meningkat 5 kali lipat dalam kurun waktu 48 jam

Polusi PM2.5 dapat memicu berbagai penyakit pernapasan. Sebagian orang dapat bergejala ringan atau berat, bergantung pada faktor-faktor lain selain polusi. Dalam studi ini, beberapa penyakit pernapasan yang difokuskan adalah rhinitis, bronkitis, influenza, asma, dan sinusitis.



Secara rata-rata, semua jenis penyakit pernapasan yang dikaji mengalami peningkatan kasus sebesar 17% dalam kurun waktu 1 - 2 hari setelah polusi tinggi. Dari studi juga ditemukan bahwa keluhan terkait Sinusitis dan Asma menjadi kemunculan tercepat (3 - 48 jam) setelah puncak kualitas udara buruk, sedangkan keluhan terkait Asma dan Bronkitis mengalami peningkatan tertinggi (5 kali lipat).

Kelompok sensitif memiliki risiko tertinggi masalah pernapasan dengan peningkatan kasus hingga 48%

Polusi PM2.5 pada kurun waktu Juni hingga Agustus 2023 cenderung konsisten berada di kategori Tidak Sehat (baik untuk umum maupun kelompok sensitif). Selama periode ini ditemukan bahwa keluhan masalah pernapasan meningkat seiring kenaikan polusi PM2.5.

Peningkatan kasus tertinggi terjadi pada kelompok lansia dengan usia di atas 55 tahun sebesar 48%. Disusul dengan kelompok usia 0-17 tahun yang mengalami peningkatan kasus penyakit pernapasan sebesar 32% dari bulan Juni hingga Agustus 2023.



Kelompok sensitif (anak-anak dan lansia) mengalami peningkatan kasus paling tinggi dibandingkan usia produktif. Namun, jenis penyakit pernapasan yang dialami setiap kelompok usia bervariasi tergantung beberapa faktor, seperti imunitas, perilaku, dan lingkungan. Perlu dijadikan catatan bahwa secara umum kondisi ini bisa dimotori oleh penyakit bawaan. Selain itu, untuk kelompok usia anak-anak dan lansia terdapat bias mengingat adanya kemungkinan saat melakukan telekonsultasi pada aplikasi Halodoc diwakilkan oleh orang tua maupun keluarganya.

Dari studi gabungan antara Nafas Halodoc ini kita bisa menarik beberapa kesimpulan:

  1. Polusi udara merupakan masalah yang serius
  2. Studi Nafas x Halodoc, menunjukkan bahwa PM2.5 memiliki risiko terhadap peningkatan keluhan pernapasan dalam jangka waktu pendek
  3. Kelompok sensitif lebih rentan mengalami risiko masalah pernapasan
  4. Pentingnya mengurangi sumber pencemar dan paparan polusi udara
  5. Data kualitas udara dari low cost sensor memungkinkan untuk digunakan studi kesehatan

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dan anggota keluarga dari paparan polusi udara?

Dalam periode polusi udara yang buruk ini, siapa saja bisa menjadi korban dari kualitas udara yang buruk. Berikut beberapa tips ‘SEHAT’ yang bisa kamu lakukan supaya bisa mengurangi efek negatif polusi udara:

  1. Selalu pantau kualitas udara secara rutin di aplikasi nafas
  2. Efek polusi nyata, lebih baik tetap di rumah saja saat polusi tinggi
  3. Harap menggunakan masker jika terpaksa keluar ruangan
  4. Asupan vitamin dengan kandungan antioksidan seperti Astaxanthin untuk melindungi kulit dari polusi
  5. Tanya Halodoc jika mengalami permasalahan kulit



Selain menerapkan tips ‘SEHAT’, pemilihan masker yang tepat juga sangat penting dalam mengurangi paparan udara luar ruangan. Tipe masker yang paling direkomendasikan adalah tipe respirator seperti KF94 atau KN95 yang mampu menyaring partikel PM2.5. Untuk anak-anak, pilih jenis masker dan usia minimal anak sesuai rekomendasi yang diberikan oleh dokter.

Pantau kualitas udara secara rutin di aplikasi Nafas dan segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat keluhan melalui aplikasi Halodoc!