LEARN / BLOG

Musim Hujan Hadir, Polusi Belum Mau Minggir


WRITTEN BY

Nafas Indonesia

PUBLISHED

08/12/2023

LANGUAGE

EN / ID

English / Indonesia


Seiring datangnya November, hujan turun mengguyur banyak daerah di Indonesia, temasuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun, apakah guyuran hujan yang sudah ditunggu-tunggu banyak warga ini hanya membuat sepatu kita basah, atau sekaligus membilas polusi yang sudah lama menggeser langit biru?

Mari kita kupas bersama menggunakan data-data kualitas udara di jaringan sensor Nafas bulan November lalu!

Bandung Menggeser Tangsel Menjadi Juara Polusi 🤒

Setelah berada di peringkat kedua bulan lalu, posisi Bandung Raya naik menjadi juara pertama wilayah paling berpolusi! Kontaminasi udara di Bandung Raya mencapai tingkat PM2.5 sebesar 49 μg/m3, sedikit turun dibandingkan bulan lalu karena adanya faktor angin dan hujan yang lebih banyak di bulan November.

Secara umum, hampir semua kota yang terpantau di sensor Nafas mengalami penurunan polusi udara di bulan November, kecuali Kota Surabaya yang mengalami peningkatan sebesar 1 μg/m3. Rata-rata penurunan PM2.5 di sini mencapai angka yang cukup besar yaitu 10 μg/m3. Tentunya ini adalah salah satu dampak baik dari datangnya musim hujan di kota-kota kita.

Sudah Menghisap Berapa Rokok di November?

Bulan ini cukup banyak kota dari luar Jabodetabek yang masuk daftar 10 lokasi dengan ekuivalen rokok tertinggi, seperti Bandung, Sidoarjo, dan Cimahi. Buat warga Ciroyom, Bandung, bulan lalu kalian setara dengan menghisap 81 batang rokok hanya dengan bernapas! 🥲 Buruknya kualitas udara di Punggul, Sidoarjo membuat wilayah tersebut memiliki jumlah ekuivalen rokok yang setara dengan Kota Tangerang, yaitu 80 batang.

Hujan Sudah Reda, Kok Polusinya Masih Ada?

Pada akhir bulan November, Jabodetabek kerap kali disiram hujan, bahkan hingga mencapai tingkat intensitas hujan ekstrem. Saat hujan turun, variasi kualitas udara menjadi semakin terlihat, berkisar dari kondisi cukup baik (moderat) hingga tidak sehat.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor waktu hujan, sebaran awan hujan, dan juga arah angin.

Berdasarkan pemantauan Nafas, terlihat bahwa kualitas udara perlahan memburuk pada tanggal 25 November, meningkat hingga 4 kali lipat dalam waktu hanya 12 jam setelah hujan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun hujan memiliki efek 'pembersihan' terhadap udara, efeknya hanya bersifat sementara.

Alkisah Dua Langit Jakarta 🎭

Psst, apakah kalian sudah pernah melihat dua wajah langit Jakarta?

Wajah cerah langit Jakarta pada tanggal 29 November ikut membahagiakan seantero Jabodetabek di dunia maya. Namun, dua hari kemudian, wajah bermuram durja itu kembali muncul bersama polusi udara yang meningkat di Jakarta. Dalam kurun waktu dua hari, tingkat PM2.5 menjadi lebih buruk 3x lipat!

Penyebabnya adalah rendah kecepatan angin pada waktu-waktu tersebut. Angin memang mampu untuk menghilangkan polusi di satu tempat. Tetapi, angin juga yang memindahkan polutan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Lihat animasi di bawah ini untuk melihat ‘penyebaran’ polusi di Jabodetabek pada 29 November - 3 Desember.

Kabut Tangerang Menyimpan Polusi ☁️

Sebuah laporan dari warganet menyampaikan bahwa beberapa daerah di Tangerang diselimuti oleh kabut pada Selasa (7/11) pagi.

Pada waktu yang sama, detektor Nafas di Serpong menunjukkan kondisi PM2.5 yang tinggi yaitu 59 μg/m3 dan tergolong tidak sehat.

Menurut penjelasan Dennish Ari, seorang Weather & Climate Risk Analyst, warna kabut yang ada di Tangerang cenderung putih sehingga kemungkinan besar merupakan kabut uap air, bukan kabut asap. Kendati demikian, kabut uap tetap bisa memperangkap polutan di udara.

Ingin Kabur Dari Pengapnya Polusi? Liburan ke Sini Saja! 🌅

Buat yang masih belum tahu mau jalan-jalan ke mana saat libur tahun baru nanti, tenang, Nafas punya rekomendasinya!

Selama November lalu Belitung kembali menjadi primadona udara bersih! Hadir dengan tingkat PM2.5 yang sangat baik, yaitu 13 μg/m3, kualitas udara Belitung memenuhi batas Baku Mutu Udara Ambien Nasional (BMUAN) Indonesia yang ada pada kadar PM2.5 sebesar 15 μg/m3. Selain itu, Bali dan Kepulauan Seribu juga bisa dijadikan pertimbangan karena ketiganya masuk sebagai tiga daerah dengan kualitas udara terbaik di jaringan sensor nafas.

Begitulah rangkuman kualitas udara selama November lalu. Meskipun musim hujan telah hadir, namun ternyata polusi udara masih belum mau minggir.

Semoga di akhir tahun ini, kita bisa melihat lebih banyak langit biru selepas hujan reda, ya!

Unduh laporan lengkap Nafas Buka Data - Laporan Kualitas Udara November 2023 dan temukan lebih banyak insight lainnya!