LEARN / BLOG

Maaf, Langit Biru Tidak Menjamin Udara Bersih!


WRITTEN BY

nafas team

PUBLISHED

25/05/2023

LANGUAGE

EN / ID

English / Indonesia


💡 Ringkasan:

  • Langit biru tidak bisa dijadikan parameter kualitas udara yang akurat
  • Suatu daerah bisa tetap berpolusi tinggi saat langit terlihat biru karena faktor polusi hiperlokal dan iklim mikro
  • Satu-satunya cara mengetahui kualitas udara suatu daerah adalah dengan mengukurnya


Ketika kita melihat langit biru dan cerah, mungkin kita sering bertanya-tanya apakah ini berarti kualitas udara juga baik?🤔

Asumsi ini mungkin muncul karena adanya Hari Internasional Udara Bersih untuk Langit Biru yang diinisiasi oleh PBB dan diperingati setiap tanggal 7 September. Namun kenyataannya, warna langit yang biru tidak menjamin udaranya. Kok bisa ya? Mari kita cari tau bersama!💡

Mari kita buktikan dengan data!

Pada awal Februari ada salah satu pengikut nafas di Twitter yang mempertanyakan validitas data sensor nafas karena langit berwarna biru cerah saat itu.



Tim nafas kemudian menganailisa data sensor yang dimaksud, yaitu Pondok Pucung (2/2/2023) pada saat tengah hari, di mana kita tahu lapisan batas planetnya lebih tinggi sehingga udara bisa bergerak dengan bebas ke langit.

📖 Baca lebih lanjut tentang lapisan batas planet di sini.



Namun ternyata kualitas udara terpantau sangat bervariasi pada waktu itu. Ada daerah yang terlihat baik, namun ada juga yang moderat, atau bahkan masuk dalam kategori tidak sehat.

Untuk Pondok Pucung sendiri termasuk tidak sehat untuk kelompok sensitif. Ada beberapa faktor pendukung kondisi yang bervariasi ini. Selain keberadaan sumber lokal, kondisi atmosfer mendukung konsenstrasi atau penumpukan polutan di suatu daerah.



Pada saat foto diambil, tim nafas melihat adanya awan hujan yang bergerak dari daerah Banten menuju Jabodetabek. Kondisi atmosfer seperti ini bisa mendukung akumulasi polutan seiring dengan pergerakan awan hujan. Hal ini terlihat dari awan berwarna kelabu yang biasa disebut Stratus pada foto. Awan tingkat rendah bisa menjadi indikasi awal terjadinya akumulasi polutan yang berada dekat dengan sensor nafas, dengan catatan bahwa kecepatan angin saat itu sedang rendah.

Kemudian tim nafas melihat lebih dekat ke sensor cuaca terdekat dan kondisi PM2.5 di Pondok Pucung dibandingkan dengan sensor lainnya, yaitu Serpong. Pada saat itu, kedua sensor memiliki arah angin dan konsentrasi PM2.5 yang berbeda. Ini berarti meskipun mereka berada di kota yang sama, masih ada faktor mikro lingkungan dan iklim lokal yang unik di masing-masing daerah



Melihat data di atas, sumber polusi di Pondok Pucung bisa jadi berasal dari arah Utara, sementara Serpong dari arah Barat Laut. Apa yang menjadi sumber polusi keduanya? Kami belum melihat lebih jauh ke lokasi pada saat itu terjadi, namun besar kemungkinannya bahwa itu berasal dari aktivitas hiperlokal.

Jangan khawatir! Kondisi ini bisa berangsur membaik ketika ada hujan angin. Dalam waktu hampir dua belas jam, tingkat PM2.5 di Pondok Pucung mengalami perbaikan hampir 82%, yaitu dari 36 ug/m3 menjadi 6 ug/m3 pada pagi hari. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi di udara tergantung pada perilaku atmosfer dan bisa menjadi indikator awal jumlah polutan yang dipancarkan dari sumber lokal yang berada di dekat sensor.



Sekarang kita tahu bahwa langit biru tidak menjamin udara yang bersih, karena masih ada jenis area, sumber hiperlokal, dan kondisi atmosfer yang menjadi faktor-faktor yang mendukung terjadinya akumulasi polutan. Mengingat kondisi atmosfer sangat dinamis dan kualitas udara bisa berubah dengan cepat, penting untuk selalu mengecek kualitas udara secara rutin!



Perhatikan kelompok sensitif seperti anak-anak yang bermain di luar saat tengah hari, pekerja di luar ruangan, dan orang yang berolahraga karena mereka berisiko tinggi mengalami peningkatan gejala penyakit yang dipicu oleh polusi tinggi!