LEARN / BLOG

Benarkah polusi udara mampu sebabkan diabetes?


WRITTEN BY

Anggid Primastiti

PUBLISHED

24/10/2022

LANGUAGE

EN / ID

English / Indonesia


Polusi udara berdampak pada lebih dari sekedar kesehatan pernapasan. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes.

🧐 Dalam artikel ini, Anda akan belajar:

  • Satu dari setiap sepuluh orang di seluruh dunia akan menderita diabetes. Indonesia menempati urutan kelima dalam hal jumlah penderita diabetes.
  • Kehadiran PM2.5 dalam tubuh dapat menyebabkan tingkat resistensi insulin yang tinggi, menyebabkan pankreas terus memproduksi insulin tanpa adanya penyerapan glukosa.
  • Satu studi menemukan bahwa untuk setiap kenaikan 10 µg/m3 PM2.5 selama paparan yang berkepanjangan, risiko diabetes mellitus tipe 2 akan meningkat sebesar 25%.

Sebagai manusia, kita membutuhkan udara bersih untuk bernapas dan bertahan hidup. Namun, polusi udara tetap menjadi masalah kesehatan global yang utama. PM2.5, polutan udara yang paling banyak dipelajari, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit, termasuk diabetes.


Hal yang perlu Anda ketahui tentang diabetes

Diabetes mellitus, juga dikenal sebagai kencing manis, adalah kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Diabetes ditandai oleh tiga gejala klasik: buang air kecil yang berlebihan (biasanya pada malam hari), haus yang berlebihan, dan lapar yang berlebihan. Gejala-gejala lain yang tidak spesifik termasuk penurunan berat badan yang cepat, kelelahan, kesemutan di kaki dan tangan, penglihatan kabur, kesulitan penyembuhan luka, dan penyakit jamur kulit.

Pasien diabetes biasanya dibagi menjadi dua kelompok: diabetes tipe 1, yang biasanya terjadi pada anak-anak atau dewasa muda, dan diabetes tipe 2, yang terjadi pada orang dewasa.

📊 Menurut International Diabetes Federation (IDF), 1 dari 10 orang akan hidup dengan diabetes di seluruh dunia. Negara kita, Indonesia, berada di posisi kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, yaitu sebanyak 19,47 juta dengan prevalensi 10,6%.


Mekanisme peningkatan risiko PM2.5 dan diabetes

Mekanisme toksikologi yang ditimbulkan oleh invasi PM2.5 ke dalam aliran darah menghubungkan udara yang tercemar dengan peradangan, disfungsi vaskular, dan penyempitan serta pengerasan pembuluh darah arteri. Paparan PM2.5 kronis juga dapat memicu intoleransi glukosa, stres oksidatif, dan disfungsi mitokondria di pankreas, yang dapat menyebabkan metabolisme glukosa dan lemak yang tidak normal di berbagai organ, dan akhirnya menyebabkan diabetes.

Di luar itu, paparan PM2.5 dapat meningkatkan ketidakseimbangan redoks, yang pada gilirannya dapat memicu proses inflamasi dan mengarah pada perkembangan gangguan metabolisme. Peran peradangan yang dimediasi oleh PM2.5 terkait dengan peningkatan respons imunologi alveolar dan produksi sitokin pro-inflamasi pada permukaan alveolar, yang akhirnya menyebabkan komplikasi diabetes.


Konsentrasi PM2.5 meningkat = Risiko diabetes meningkat

Banyak penelitian telah menemukan bahwa polusi PM2.5 dapat menimbulkan diabetes tipe 2 atau membuat penderita diabetes lebih rentan terhadap komplikasi kesehatan lainnya. Sebuah studi metaanalisis yang diterbitkan dalam Journal of Diabetes Investigation berusaha untuk menentukan hubungan antara paparan PM2.5 dan diabetes mellitus tipe 2.

💡 Hasilnya, penelitian ini menemukan korelasi antara PM2.5 dan prevalensi diabetes mellitus tipe 2 selama periode paparan jangka panjang. Mereka mengungkapkan bahwa risiko diabetes mellitus tipe 2 meningkat sebesar 25% dengan setiap peningkatan 10 μg/m3 dalam PM2.5 dalam jangka panjang.

Studi lain yang dilakukan oleh Heinz Nixdorf Recall Investigator Group di Jerman juga menemukan hubungan antara PM2.5 dan risiko diabetes. Mereka menganalisis 3607 orang tanpa diabetes pada awal penelitian mereka, dan temuannya menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dapat meningkatkan risiko diabetes mellitus tipe 2.

Risiko dan beban penyakit jangka panjang dan jangka pendek dapat dikurangi dengan menurunkan tingkat polusi udara. Akibatnya, batas pedoman Global WHO berusaha mencapai konsentrasi PM serendah mungkin dengan membatasi paparan PM2.5 rata-rata tahunan tidak lebih dari 5 µg/m3 dan paparan rata-rata 24 jam tidak lebih dari 15 µg/m3 selama 3 - 4 hari per tahun.

Sayangnya, kualitas udara Indonesia masih berada di atas ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam artikel ini, kami ingin menunjukkan kepada Anda kualitas udara di beberapa kota. Nafas mengikuti standar kualitas udara Badan Perlindungan Lingkungan AS dalam skala di bawah ini. Sederhana saja: cukup ingat warnanya.

💨 Sekarang, mari lihat kualitas udara di kota-kota berikut!

Ini adalah kalender kualitas udara di DKI Jakarta pada bulan Agustus 2022. Tidak ada hari dengan warna hijau atau kualitas udara baik dalam satu bulan penuh.

Hal yang sama juga terjadi di Semarang. Tak ada satupun hari berkualitas baik!

Selanjutnya, Bandung juga masih sama, tak menunjukkan adanya hari-hari dengan kualitas udara sehat.

Terakhir, Denpasar! Pada beberapa hari, ternyata masih juga ditemukan hari-hari dengan konsentrasi PM2.5 di atas 10 µg/m3.

👀 Sekarang, mari kita lihat data keseluruhannya!

Akhirnya, kita dapat melihat bahwa beberapa kota ini memiliki kualitas udara hingga 9,6x lebih tinggi dari batas yang direkomendasikan WHO.


Pentingnya menjaga kebugaran dan kesehatan

Mengurangi asupan makanan manis dan menghindari gaya hidup tidak langsung menghilangkan risiko diabetes. Karena paparan PM2.5 tampaknya berakibat fatal bagi kesehatan kita setiap saat, maka harus diambil langkah-langkah untuk mencoba meminimalkan paparannya terhadap tubuh kita. Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk melindungi kesehatan Anda dari polusi udara dan diabetes:

  • Hanya berolahraga di daerah dengan polusi rendah, jauh dari jalan raya. Selama periode polusi udara tinggi, Anda harus mempertimbangkan untuk berolahraga di rumah atau di studio kebugaran, bukan di luar.
  • Pakai masker setiap kali Anda diharuskan melakukan aktivitas di luar ruangan. Masker N95 sangat direkomendasikan untuk perlindungan terhadap PM2.5.
  • Mempertahankan pola makan yang teratur. Makanlah tiga kali makanan yang seimbang dan sehat setiap hari, dan batasi asupan makanan dan minuman bergula tinggi.

Terakhir, hal terpenting adalah selalu memeriksa kualitas udara sebelum pergi ke luar. Menggunakan aplikasi monitor kualitas udara, seperti aplikasi Nafas, dapat membantu Anda mengukur tingkat polusi dengan baik. Hal ini dapat membantu Anda menentukan tingkat polusi udara yang menyebabkan masalah kesehatan Anda dan mengambil tindakan pencegahan.

Ingin hidup sehat mulai sekarang? Klik di sini dan mulailah perjalanan Anda dengan Nafas.