LEARN / ARTICLE

Bangunan Kita Membuat Kita Sakit


WRITTEN BY

Nafas Indonesia

PUBLISHED

01/08/2023

LANGUAGE

EN / ID

English / Indonesia


"Kita membentuk bangunan kita; setelahnya, mereka membentuk kita." - Winston Churchill

Dalam bukunya “Healthy Buildings: How Indoor Spaces Can Make You Sick - Or Keep You Well”, Dr. Joseph G. Allen menyoroti bahwa manusia telah berevolusi menjadi makhluk yang lebih banyak berada di dalam ruangan.

Mari kita renungkan beberapa fakta di bawah ini:
💭 Kita menghabiskan sekitar 10-12 jam di dalam rumah (8 jam di antaranya untuk tidur).
💭 Kita menghabiskan sekitar 8 jam di dalam kantor (bahkan mungkin lebih).
💭 Di waktu yang tersisa, kita bisa berada di gym, pusat perbelanjaan, restoran, atau dalam mobil. Yang pasti, kita selalu berada di ‘dalam ruangan’.
💭 Sebagian besar waktu yang kita habiskan di saat kita terjaga adalah di dalam ruangan.

Selama bertahun-tahun, kita menganggap bahwa bangunan yang kita tinggali adalah tempat yang aman untuk kita. Ketika berada di dalam sebuah bangunan, kita aman dari guyuran hujan, salju, dan kebisingan perkotaan yang tidak ada habisnya. Kita juga tidak merasa kepanasan atau kedinginan sehingga berpikir untuk melepas baju hangat kita (jika kita berada di negara empat musim dingin) maupun berkeringat berlebihan (jika berada di negara tropis).

Tapi apakah kita benar-benar yakin bahwa bangunan tersebut benar-benar melindungi kita sepenuhnya? Apakah bangunan-bangunan tersebut 100% menutup kemungkinan segala ‘ancaman’ dari luar untuk masuk ke dalam? Bagaimana dengan polusi udara dari luar? Apakah polutan bisa masuk ke dalam bangunan kita? Mari kita cari tahu bersama-sama!

Bangunan-bangunan kita tidak melindungi dari polusi udara

Kita bisa saja merasa nyaman berada di dalam ruangan, tapi nyatanya, tubuh kita tetap terpengaruh oleh ‘gangguan’ lain yang ada, yaitu PM2.5.

PM2.5 atau particulate matter 2.5 diakui WHO sebagai salah satu polutan paling berbahaya di dunia. Ukurannya 2,5 mikron sehingga hanya bisa terlihat melalui mikroskop elektron dan mudah masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah saat kita bernapas.



PM2.5 juga merupakan polutan paling umum di Indonesia di mana konsentrasi rata-rata tahunan jauh melebihi berbagai pedoman kualitas udara "Baik," baik jika menggunakan parameter indeks kualitas udara Indonesia ISPU (15 µg/m3), indeks US EPA (12 µg/m3), maupun batas paparan tahunan WHO (5 µg/m3



Dalam 2 bulan terakhir, Mei dan Juni 2023, tingkat PM2.5 di luar ruangan di Jakarta bahkan mencapai 106 µg/m3. Rata-rata bulanan untuk kedua bulan tersebut mencapai 45 µg/m3 dan 43 µg/m3.



Jadi, seberapa besar dampak polusi udara luar ketika kita berada di dalam ruangan ber-AC? Data menunjukkan bahwa dampaknya cukup besar.

Mari kita lihat beberapa data dari kantor, sekolah, gym, serta rumah, membandingkan kualitas udara di dalam dan luar pada saat yang sama



Sebuah gedung kantor di tengah Kuningan, Jakarta selama hari kerja.



Sebuah sekolah internasional di Jakarta Utara selama hari sekolah.



Sebuah gym di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta selama hari kerja.



Sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan dalam 24 jam.

Penelitian menunjukkan bahwa polusi di dalam bangunan kita benar-benar berdampak lebih dari yang kita pikirkan.

Bangunan-bangunan kita berdampak pada kinerja kognitif kita

Selama beberapa tahun terakhir terdapat fenomena meningkatnya jumlah penelitian yang berfokus dalam mempelajari dampak bangunan pada kinerja kita. Bagaimana bangunan-bangunan ini benar-benar membentuk kita. Dr. Joseph Allen mendirikan Harvard Healthy Buildings institute at the T.C. Chan School of Public Health dan memimpin banyak penelitian yang mengukur bagaimana bangunan-bangunan kita membuat kita tidak sehat.

Pada tahun 2021, studi COGFx meneliti dampak iklim dalam ruangan terhadap kinerja pekerja kantor di berbagai negara seperti Mexico, India, Thailand, Amerika Serikat, Inggris, dan China. Penelitian ini berfokus pada bagaimana hubungan antara ventilasi dan polusi udara dapat mempengaruhi kinerja pekerja di kantor dengan menggunakan berbagai tes kognitif.

Satu temuan penting penelitian tersebut yaitu pada konsentrasi PM2.5 di atas 12 µg/m3, pekerja kantor berkinerja lebih buruk dalam 4 dari 5 tes kognitif.

Mari bandingkan dengan kualitas udara dalam gedung-gedung kantor besar di Kuningan dan SCBD di Jakarta selama 1 bulan terakhir.



Sebuah gedung kantor di Kuningan, Jakarta.



Sebuah gedung kantor di SCBD, Jakarta.

Jika kita bandingkan kedua kantor di atas, kita bisa melihat bahwa tingkat PM2.5 di dalam ruangan tersebut berada di atas nilai ambang batas, yaitu 12 ug/m3.

Ini terjadi tepat di hadapan kita - dan kejadian ini juga sangat mungkin terjadi di tempat kita bekerja, tempat anak-anak kita bersekolah, tempat kita berolahraga, dan bahkan tempat yang kita huni.

Namun, kita bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut.

Bangunan dan hunian kita tercemar - tapi bisa diperbaiki

Kualitas udara di dalam bangunan kita saat ini mungkin dapat dikategorikan tidak sehat. Namun, kita memiliki kendali untuk membuatnya menjadi sehat.

Sama seperti kita bisa mengendalikan suhu di dalam ruangan ber-AC, kita juga bisa mengendalikan kualitas udaranya. Terus-menerus mengukur kualitas udara di dalam ruangan adalah langkah pertama dan penting untuk meningkatkan kesehatan kita di dalam ruangan.

Udara sehat di dalam bangunan bukan hal yang mustahil. Sekarang mari kita lihat data dari Pacific Century Place, gedung yang dianggap paling sehat di Jakarta.



Kita tidak memiliki banyak kendali atas kualitas udara di luar bangunan yang kita tempati, namun kita memiliki kendali penuh dalam mengendalikan dan menjaga udara yang kita hirup di dalam ruangan.

Kita yang membuat bangunan kita, jadi sudah semestinya kita merawat tempat yang kita huni agar tetap selalu sehat!

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang cara membuat kantor, gym, sekolah, atau rumah Anda menjadi sehat, silakan kirimkan email kepada kami di [email protected].